Kamis, 05 Februari 2015

INOVASI PEMKAB. SERDANG BEDAGAI
UNTUK PROGRAM PENANGGULANGAN KEMISKINAN

POSYANDU HOLISTIK INTEGRATIF

A.    Latar Belakang
Deretan program pengentasan kemiskinan telah banyak diluncurkan oleh pemerintah, kesemua program tersebut memiliki satu tujuan utama yaitu berupaya untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dalam suatu rangkaian program pemberdayaan. Bila dicermati, terdapat beberapa kelemahan mendasar dari berbagai program pengentasan kemiskinan selama ini. Pertama, tidak optimalnya mekanisme pemberdayaan warga miskin. Hal ini terjadi karena program lebih bersifat dan berorientasi pada ‘belas kasihan’ sehingga dana bantuan lebih dimaknai sebagai “dana bantuan cuma-cuma” dari pemerintah. Kedua, asumsi yang dibangun lebih menekankan bahwa warga miskin membutuhkan modal. Konsep ini dianggap menghilangkan kendala sikap mental dan kultural yang dimiliki oleh warga miskin. Muaranya adalah rendahnya tingkat perubahan terhadap cara pandang, sikap, dan perilaku warga miskin dan warga masyarakat lainnya dalam memahami akar kemiskinan. Ketiga, program pemberdayaan lebih dimaknai secara parsial, misalnya titik berat kegiatan program hanya mengintervensi pada satu aspek saja, seperti aspek ekonomi atau aspek fisik, belum diintegrasikan dalam suatu program pemberdayaan yang terpadu yang mengutmakan pendidikan dan ketrampilan, kesehatan, pemberdayaan keluarga, pemberdayaan ekonomi keluarga, lingkungan. Filosofi pemberdayaan lebih diarahkan pada proses pembelajaran warga miskin dengan perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku kelompok miskin secara lebih konstruktif kearah fisik saja.
Program Penanggulangan Kemiskinan harusnya  dirancang sebagai suatu program yang menggunakan pendekatan pembelajaran dan pemberdayaan kepada warga masyarakat miskin. Dengan demikian, dua aspek ini selalu menjadi orientasi dari keseluruhan proses kegiatan. Pembelajaran mengandung maksud sebagai media bagi masyarakat miskin untuk belajar dan berusaha. Sementara itu, kegiatan dimaksudkan untuk memberdayakan masyarakat sehingga mampu mandiri dan pada akhirnya program diharapkan akan berkelanjutan. Paling tidak terdapat tiga aspek penting yang perlu memperoleh perhatian. Pertama, program ini berupaya menanggulangi kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat dalam bentuk gerakan bersama dalam komunitas. Kedua, program inin memadukan tiga aspek pemberdayaan, yakni daya fisik, daya ekonomi, dan daya sosial, ke dalam sebuah konsep yang dinamakan Tridaya. Ketiga, program pemberdayaan yang ditawarkan dilakukan sebagai proses pembelajaran dan penguatan kesadaran kritis masyarakat.
Konsep pembangunan atau pengembangan masyarakat lokal (local community development) muncul sebagai reaksi terhadap pembangunan nasional yang memiliki bias-bias kekuasaan, yang menempatkan penguasa dengan kepentingannya pada posisi dominan. Setiap usaha pembangunan dan pengembangan masyarakat lokal paling tidak mensyaratkan empat hal, yakni: Pertama, usaha itu mengharuskan pengenalan karakter yang khas secara saksama sehingga pendekatan yang digunakan dapat sejalan dengan sifat-sifat masyarakat; Kedua; adanya partisipasi masyarakat karena masyarakat memiliki preferensi-preferensi dalam berbagai bentuk; Ketiga, adanya pembelaan terhadap status marginal; Keempat, pemanfaatan sumber daya dan kekuatan dari dalam Dengan menggunakan cara tersebut di atas, Program ini tidak sekadar sebagai "proyek" pengentasan kemiskinan, tetapi merupakan program pembelajaran bagi warga/kelompok miskin untuk menjadi berdaya.  Dalam mengatasi masalah kemiskinan tersebut perlu dilakukan terobosan baru dalam pemberdayaan masyarakat melalui pengorganisasian masyarakat yang terstruktur dan komprehensif di tingkat paling bawah. Salah satu strategi pemberdayaan yang layak dikedepankan adalah melalui Posyandu Holistik-Integratif.  Posyandu Holistik – Integratif  inilah yang dijadikan sebagai wadah kegiatan penguatan fungsi-fungsi keluarga secara terpadu sekaligus bisa juga menjadi wadah pelayanan pengembangan keluarga secara berkelanjutan dalam berbagai bidang agar keluarga bisa tumbuh mandiri.
Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2014 akan melaksanakan pilot project  pengembangan model  Pos Pelayanan Terpadu Holistik – Integratif sebagai salah satu bentuk pelaksanaan revitalisasi Posyandu. Hakekat dilaksanakannya Revitalisasi Posyandu adalah sebagai upaya meningkatkan kemampuan setiap keluarga dalam memaksimalkan potensi pengembangan kualitas sumber daya manusia sekaligus merupakan salah satu komponen perwujudan kesejahteraan keluarga. Untuk melaksanakan revitalisasi posyandu perlu dihimpun seluruh kegiatan masyarakat agar berperan serta secara aktif sesuai dengan kemampuannya, baik sebagai pelaksana maupun sebagai pembina dilingkungannya masing-masing sehingga cakupan sasaran kelompok masyarakat yang membutuhkan pelayanan posyandu dapat mencapai hasil yang setinggi-tingginya. Posyandu dengan strata Purnama dan strata Mandiri dapat dikembangkan menjadi model Posyandu Holistik – Integratif yang diintegrasikan dengan beberapa kegiatan yang memang sudah ada di desa/kelurahan.
Sejalan dengan semangat inovasi daerah  dalam gerakan pembangunan swadaya rakyat dan upaya penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat, serta untuk menindaklanjuti Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomoro 19 Tahun 2011 tentang  Pengintegrasian Pelayanan Sosial Dasar Pada Posyandu, maka Kabupaten Serdang Bedagai mencoba  mengembangkan beberapa posyandu yang sebelumnya merupakan  upaya kesehatan bersumber masyarakat (UKBM). Sebagai pilot project tahun  2014 akan dimulai dilaksanakan pengembangannya sebanyak 10 (sepuluh) model posyandu  Holistik-Integratif  yang dipilih dari beberapa posyandu Purnama dan Mandiri terbaik di 10 (sepuluh) desa dan 10 (sepuluh) kecamatan.  Diharapkan pada tahun berikutnya  akan terjadi replikasi di beberapa posyandu dengan strata yang sama sehingga dimasa mendatang ada satu posyandu Holistik-Integratif di setiap desa/kelurahan.
Pelaksanaan posyandu Holistik-Integratif  dapat menjadi salah satu strategi dan kebijakan baru dalam upaya menanggulangi kemiskinan dan permasalahan sosial di desa melalui beberapa gerakan-gerakan yang bersumber dari masyarakat, seperti halnya gerakan peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui kegiatan dan pelayanan kesehatan dan keluarga berencana yang selama ini sudah menjadi kegiatan rutin di Posyandu di tambah dengan beberapa gerakan lainnya yang diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dan meningkatkan kegairahan masyarakat untuk mengunjungi posyandu. Posyandu yang selama ini menjadi rutinitas timbang bayi dan imunisasi menjadi berkembang menjadi tempat yang diminati masyarakat untuk beraktivitas sehari-hari. Posyandu itu juga diharapkan mampu mengerakkan ekonomi keluarga melalui beberapa kegiatan yang didukung sepenuhnya oleh beberapa satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sebagai instansi teknis pembina posyandu Holistik-Integratif .
Model posyandu yang dikembangkan ini diharapkan berada pada satu kawasan setingkat desa  dimana diharapkan nantinya posyandu Holistik–Integratif  ini memiliki gedung sendiri yang permanen dilengkapi dengan peralatan yang memadai untuk memberikan pelayanan sesuai dengan pola yang dikembangkan. Posyandu Holistik-Integratif dikembangkan dengan program/kegiatan dan pelayanan utama sebanyak  lima kegiatan dengan pola 5 (lima) meja dan 2 (dua) pos serta dapat dikembangkan lagi dengan penambahan beberapa pos kegiatan. Petugas yang melaksanakan kegiatan dan pelayanan adalah petugas kesehatan, tenaga pendidik, tenaga teknis lainnya, pengurus PKK desa dan kader posyandu yang dilatih sesuai dengan bidang kegiatan masing-masing.
Pembinaan dan pelatihan  tenaga teknis serta kader  dilakukan oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah terkait sebagai pembina teknis posyandu dengan dikoordinasikan oleh Badan Pemberdayaan Masyarakat Daerah sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah pembina organisasi dan kelembagaan posyandu Untuk mengefektifkan kegiatan posyandu, maka kegiatan posyandu ini harus dilakukan pengawasan mulai dari tingkat desa, kecamatan dan kabupaten melalaui kegiatan sosialisasi, monitoring, evaluasi dan pelaporan.
B.     Tujuan
1.      Tujuan umum
Pengembangan model posyandu Holistik-Integratif secara umum bertujuan untuk  merevitalisasi keberadaan posyandu yang sudah ada, sehingga posyandu tidak hanya terfokus kepada kegiatan dan pelayanan kesehatan dan keluarga berencana saja tetapi dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi serta potensi yang ada seperti sumber daya alam dan sumber daya manusia, sehingga dapat juga menopang ekonomi keluarga dan masyarakat sebagai upaya penanggulangan kemiskinan dan permasalahan sosial di desa/kelurahan.
2.      Tujuan khusus
a. Sebagai upaya peningkatan ekonomi keluarga melalui pemanfaatan lingkungan dan sumberdaya alam serta potensi yang tersedia di desa, sehingga diharapkan mampu menurunkan angka kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat.
b.   Sebagai upaya meningkatkan kepedulian masyarakat dengan membudayakan kegiatan gotong royong, peduli terhadap bencana dan peningkatan kualitas lingkungan.
c.    Sebagai upaya meningkatkan kreatifitas masyarakat melalui pengembangan usaha kerajinan lokal, pelatihan ketenagakerjaan dan pemasaran serta kegiatan penelitian dan pengembangan ekonomi lokal.
d.    Untuk mengintegrasikan beberapa kegiatan dan pelayanan sosial dasar di masyarakat secara menyeluruh dengan melibatkan secara terpadu beberapa satuan kerja perangkat daerah terkait, lembaga sosial masyarakat, dan dunia usaha  pada satu kawasan dan satu manajemen pelayanan.
e.  Untuk mempersiapkan Sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas sejak usia dini, remaja sampai dengan lanjut usia melalui pemberian pelayanan kesehatan, pemantauan status gizi anak, pendidikan anak usia dini, dan deteksi tumbuh kembang anak, serta menumbuhkan gerakan gemar membaca.
f.   Untuk mengembangkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera melalui pelayanan dan penyuluhan kesehatan serta  pembinaan keluarga balita dan kesehatan reproduksi remaja.
C.     Sasaran

Sasaran dari Posyandu Holistik-Integratif  adalah ibu, bayi (usia 0-1 tahun), anak usia dini (usia 0-6 tahun), remaja (usia 13-15 tahun), keluarga, lansia (usia.> 50 tahun), dan masyarakat.


Posyandu holistik integratif adalah pengintegrasian secara holistik dari beberapa kegiatan yang tergabung didalam beberapa bagian posyandu seperti : posyandu peduli, posyandu hijau, posyandu sehat, posyandu pintar dan posyandu kreatif

1.      Posyandu Peduli
Posyandu Peduli adalah bagian dari posyandu holistik integratif yang melaksanakan kegiatan memasyarakatkan gotong royong, penanggulangan bencana, penanggulangan kemiskinan, peningkatan lingkungan hidup, dan persampahan

2.      Posyandu Hijau
Posyandu Hijau adalah bagian dari posyandu holistik integratif yang melaksanakan kegiatan pembuatan bank sampah, penghijauan, bank bibit, pemenuhan pangan dan gizi anak, dan penganeka ragaman tanaman  konsumsi pangan
3.      Posyandu Sehat
Posyandu Sehat adalah bagian dari posyandu holistik integratif yang melaksanakan kegiatan pelayanan kesehatan dasar, keluarga berencana, Deteksi dini tumbuh kembang anak, bahaya narkoba, serta pengadaan mandi cuci kakus (MCK).
4.      Posyandu Pintar
Posyandu Pintar adalah bagian dari posyandu holistik integratif yang melaksanakan kegiatan Pos PAUD, pengembangan budaya dan seni, Bina Keluarga Balita (BKB), dan peningkatan gemar membaca masyarakat, serta pengembangan sekolah adiwiyata.
5.      Posyandu Kreatif
Posyandu Kreatif adalah bagian dari posyandu holistik integratif  yang melaksanakan kegiatan pengembangan kerajinan lokal, pelatihan ketenagakerjaan dan pemasaran, serta study dan penelitian pengembangan ekonomi lokal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar